Antara Facebook dan Produktivitas Kerja

facebook2 Tujuan suatu teknologi diciptakan adalah untuk membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Fase selanjutnya adalah bagaimana kita memanfaatkan teknologi tersebut. Dalam fase pemanfaatan dan fase adaptasi dengan teknologi ini, seringkali ada rasa “enggan” untuk menerimanya. (sesuai dengan sifat manusia ketika keluar dari zona nyaman)

Fenomena boomingnya Facebook akhir-akhir ini sepertinya mulai mengundang pro dan kontra, khususnya bila dikaitkan dengan produktivitas kerja. Beberapa artikel mulai menyoroti topik ini dengan berbagai fakta dan opini masing-masing. Ada yang mengatakan Facebook membuat karyawan perusahaan menjadi terganggu, sehingga tidak produktif di saat kerja. “Di kantor kok kerjanya facebook-an, kerja sono…”, salah satu komentar karyawan swasta yang melihat temannya sedang membuka facebook account saat kerja. Ada juga yang berpendapat bahwa facebook bisa meningkatkan produktivitas kerja.

Tidak ada 100% yang benar dan salah. Namun dalam menjustifikasi suatu permasalahan haruslah dengan melihatnya secara komprehensif. Ruang lingkup lebih besar yang berada di belakang berkembangnya tools semacam facebook, twitter, wiki, blog, dll (social networking tools) adalah munculnya konsep web 2.0, yang bila diterjemahkan ke dalam teknologi akan menjadi tools kolaborasi dan partisipasi (tidak lagi bersifat searah atau information-driven, namun dua arah – lebih interaktif). Juga dengan adanya tulisan Thomas L. Friedman – The World is Flat, membuka wacana bahwa dunia kita yang sudah memasuki era informasi dan globalisasi, semakin saling terhubung satu dengan yang lain (interconnected).

Bergulir dari era globalisasi yang serba connected ini sampai-sampai melahirkan new style dalam bekerja yang dicetuskan oleh IBM yaitu Flexibility@Work – Work/Life Integration. Era ini juga setidaknya mulai mengaburkan batasan antara pemain bisnis telekomunikasi dan pemain bisnis media/entertainment.

Lalu apa tahapan selanjutnya? Memasuki dan melewati suatu era yang baru, kebiasaan yang baru, atau muncul dan tenggelamnya sesuatu yang baru, sebaiknya disikapi dengan positif (daripada menggerutu disertai dengan tindakan negatif). Lebih baik mengambil tindakan untuk merangkul suatu perubahan, daripada menghindarinya. Toh beberapa perusahaan juga sudah mulai melirik potensi dari adanya facebook ini, contohnya: unilever pun mulai memasang iklan ponds di facebook. Atau bisa juga mengambil contoh dari kemenangan Obama, yang paling tidak juga ada kaitannya dengan Facebook. Forrester Research mencatat Obama memiliki 2,379,102 facebook fans, sementara McCain memiliki 620,359 fans.

Jadi kalau dikembalikan ke topik semula yaitu “antara facebook dan produktivitas kerja”, tools facebook janganlah dijadikan kambing hitam untuk disalahkan, karena force-driven nya adalah pergeseran era yang lebih interconnected. Produktivitas kerja seseorang ya tergantung dari pribadi masing-masing. Kalau orang tersebut memiliki personal responsibility yang bagus, kebiasaan ber-facebook-ria tentunya tidak akan mempengaruhi hasil kerja nya. Malahan bisa membantunya untuk memperluas networking, mengatur agenda, dan disadari atau tidak, bisa menjadi media untuk promosi juga. Memasukkan facebook atau social networking tools lainnya kedalam kategori banned website di suatu company, bukanlah suatu penyelesaian. Karena karyawan tetap saja bisa ber-facebook-ria di blackberry nya 🙂 Jadi?