Mengapa setiap Perusahaan membutuhkan Generasi Muda (Gen Y)?

Pertanyaan ini adalah sebagai penggugah semangat Generasi Muda dan bahan diskusi dalam keseharian menjalani pekerjaan. Generasi Muda yang saya maksudkan disini lebih spesifik ke Generasi Y (Gen Y) dengan segala karakteristik, kelebihan dan kelemahannya. Sebagai salah satu bagian dari Gen Y, saya merasa senang bercampur bangga :), dimana Gen Y dideskripsikan sebagai berikut:

They’re used to hard work, constant supervision, having their opinions valued, always doing something interesting and juggling multiple technologies and a wide array of high-tech gadgetry.
(Read more: Businesses untangle the Gen Y knot | Silicon Valley / San Jose Business Journal)

Tentu saja disamping kelebihan yang disebutkan, ada kelemahan yang dimiliki oleh Gen Y seperti:

In our interviews with business leaders, they experience Gen Y members as ambitious and demanding, hypersensitive, and almost allergic to criticism. They are puzzled by the amount of “emotion” Gen Y employees add to the workplace. The combination of high intelligence and overexcitability explains many of the difficulties managers have with their Gen Y staff.
http://www.businessweek.com/globalbiz/content/feb2010/gb20100216_566561.htm

Deskripsi dari Gen Y sendiri tidak ditentukan secara pasti. Namun secara umum saya mengutip dari definisi Bruce Tulgan (Rainmaker Thinking Inc Founder, dan penulis beberapa buku seperti: IT’S OKAY TO MANAGE YOUR BOSS – 2010, NOT EVERYONE GETS A TROPHY – 2009):

There is no consensus over the exact birth dates that define Gen Y, also known by some as echo boomers and millennials. But the broadest definition generally includes the more than 70 million Americans born 1977 to 2002. Generation X was born roughly 1965 to 1976.
Narrower definitions put Gen Yers as those ages 16 to 27, born from 1978 to 1989. This narrower view is based on the thinking that as the pace of change in society accelerates, the time frame of a generation gets shorter.

Terlepas dari kelebihan dan kelemahan dari Gen Y, setiap perusahaan mau tidak mau harus merangkul Gen Y, dan mengarahkan ke jalur yang “benar” sampai mereka bisa mengeluarkan potensi nya secara optimal.

Kembali ke pertanyaan awal, “Mengapa setiap Perusahaan membutuhkan Generasi Muda (Gen Y)”? Beberapa point yang merupakan jawaban dari pertanyaan diatas, saya tulis berdasarkan dari hasil review beberapa artikel, keseharian bekerja, dan empat tahun perjalanan bekerja di tiga perusahaan yang berbeda dengan kultur dan dinamika yang berbeda pula.

  1. Mereka “multi-tasker” dan mengetahui banyak hal tentang teknologi (Technology Savvy / Technology Sophisticated )
    Gen Y melakukan banyak hal dalam sekali waktu, mengirim email di Notebook mereka sembari mengecek updated status Facebook dan Twitter mereka di Smartphone, dan melakukan call ke rekan kerjanya. Mereka sudah terbiasa juggling dengan gadget mereka masing-masing. Dan tentu saja, mereka sangat “melek” terhadap teknologi, karena dibesarkan dalam lingkungan dimana teknologi menjadi bagian dari hidupnya, termasuk dalam pertemanan mereka.
    Potensi ini dapat dijadikan suatu keunggulan untuk perusahaan, dimana Gen Y dapat mencapai produktivitas yang maksimal, ditunjang dengan lingkungan dan jam kerja yang fleksibel. Permasalah bekerja dengan virtual team tidak akan menjadi kesulitan bagi generasi ini.
  2. Mereka akrab dengan perubahan dan ambisius
    Dalam pekerjaan kesehariannya, Gen Y selalu menuntut adanya perubahan. Dalam hal ini, bukan berarti mereka tidak bisa loyal, namun mereka “mudah bosan”. Bila dicermati lebih dalam, ke-“mudah bosan” –an mereka cukup beralasan, karena mereka memang tipikal orang yang ambisius, suka membawah perubahan, berusaha menemukan cara baru yang lebih kreatif, dan “fast and ongoing learner”. Gen Y juga terkenal dengan “high expectation” nya, baik terhadap perusahaan dimana dia bekerja, maupun terhadap dirinya sendiri.
    Dari potensi inilah suatu perusahaan bisa menjadikan mereka sebagai Change Leader / Influencer di lingkungan internal, dan memupuk mereka untuk menjadi lebih kreatif di dalam konteks bisnis yang dijalankan. Juga dengan memanfaatkan “fast and ongoing learning” dari Gen Y, perusahaan dapat melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda, untuk memperkaya ide dan masukan.
  3. Mereka suka menjadi volunteer
    Semangat dari Gen Y dan generasi muda memang tak akan ada habisnya. Hal ini tercermin dari semangat mereka juga untuk menjadi “Volunteer” dalam berbagai aksi sosial dan komunitas. Perusahaan yang sudah seharusnya memiliki aksi sosial dalam kegiatan CSR (Corporate and Social Responsibility) nya, bisa menjadi “media” bagi Gen Y untuk menyalurkan keinginan dan semangat mereka.

Sebagai penutup, saya mengambil sosok representatif dari Gen Y, yang mungkin bisa dibilang juga contoh yang ekstrim. Pada 15 Desember lalu, Mark Zuckerberg, 26 tahun, CEO of Facebook, terpilih sebagai Time – Person of the Year 2010”. Merupakan suatu pencapaian yang fenomenal dan inspirasional, yang sedikit banyak mengingatkan pada kita mengenai betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh Generasi Muda.

http://www.time.com/time/specials/packages/article/0,28804,2036683_2037183_2037185,00.html

Time - Person of the Year 2010

Semoga bermanfaat 🙂